Dinas Perpustakaan dan Kearsipan · Kota Salatiga
Kota ini bermula
dari sebuah arsip.
Pada tahun 750 Masehi, sebongkah batu di Plumpungan dipahat untuk mengabadikan pembebasan sebuah desa dari kewajiban pajak. Di batu itulah nama Salatiga pertama kali dituliskan. Sejak saat itu kota ini tidak pernah berhenti mencatat dirinya sendiri — dalam foto, surat keputusan, dan suara yang direkam sebelum sempat terlupakan.
SIKASA merawat catatan-catatan itu, lalu menyusunnya kembali menjadi cerita yang bisa dibaca siapa saja.
Hingga hari ini terhimpun 4 arsip yang terbuka untuk umum: 4 gambar. Yang tertua bertarikh 1900, yang termuda 1920 — rentang 20 tahun yang di dalamnya Salatiga berganti wajah berkali-kali. Semuanya dihimpun dari 1 sumber dan menunggu dirangkai menjadi tema.
Ruang Cerita
Arsip yang saling menautkan
Sehelai arsip yang berdiri sendiri hanya memberi satu keping keterangan. Pengelola menyusunnya ke dalam tema — merangkai beberapa arsip menurut urutan tertentu, lalu menuliskan apa yang menghubungkan yang satu dengan yang lain. Yang tersusun di bawah ini bukan daftar, melainkan bacaan.
Belum ada tema yang diterbitkan. Begitu pengelola merangkai arsip ke dalam sebuah tema, ceritanya akan muncul di sini.
Lemari Arsip
Tokoh, tempat, dan tahun
Seluruh arsip yang terbuka untuk umum tersusun di sini menurut dasawarsa. Sebutlah satu nama tokoh atau satu tempat, dan lemari ini akan menyala hanya pada arsip yang memuatnya — begitu pula sebaliknya, setiap nama yang tercetak pada kartu dapat Anda tekan untuk menelusuri jejaknya.
Menampilkan seluruh 4 arsip.
1900-an · 3 arsip
1920-an · 1 arsip
Setiap berkas menunggu dibaca kembali.
Khazanah ini akan terus bertambah. Setiap kali satu arsip baru masuk lalu dikaitkan dengan tokoh, tempat, dan tema yang sesuai, satu bagian dari cerita kota ini menjadi lebih terang. Bila Anda menyimpan foto, surat, atau rekaman tentang Salatiga, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan terbuka untuk menerimanya.